NOTE! This site uses cookies and similar technologies.

If you not change browser settings, you agree to it.

I understand

SDGs for All

SDGs for All is a joint media project of the global news organization International Press Syndicate (INPS) and the lay Buddhist network Soka Gakkai International (SGI). It aims to promote the Sustainable Development Goals (SDGs), which are at the heart of the 2030 Agenda for Sustainable Development, a comprehensive, far-reaching and people-centred set of universal and transformative goals and targets. It offers in-depth news and analyses of local, national, regional and global action for people, planet and prosperity. This project website is also a reference point for discussions, decisions and substantive actions related to 17 goals and 169 targets to move the world onto a sustainable and resilient path.

Kongres Pemimpin Agama Dunia di Astana Menjanjikan ‘Persatuan dalam Keanekaragaman’

Oleh Ramesh Jaura

ASTANA (IDN) – Pada titik krisis ketika toleransi agama diasingkan untuk dilupakan, konferensi internasional telah menyerukan "kepada semua orang dalam iman dan niat baik " untuk bersatu, dan menyerukan "memastikan perdamaian dan harmoni di planet kita ".

Seruan tersebut muncul dari Kongres Pemimpan Agama Dunia dan Tradisional di Astana, kota Kazakhtan, yang didirikan dengan prinsip "persatuan dalam keanekaragaman ". Kongres tersebut ditutup dengan ‘konser perdamaian’, tempat 500 penyanyi paduan suara dari lima benua di dunia ambil bagian.

Paduan suara anak-anak yang terdiri dari penyanyi kecil memulai konser dengan lagu-lagu dari Sergey Rakhmaninov, Nursultan Nazarbayev, Altynbek Korazbayev dan banyak lainnya.Konser ini mengumpulkan penyanyi paduan suara dari India, Indonesia, Georgia, Hongaria, Israel, Italia, Republik Korea, Cina, Bulgaria, dan Australia. Konser tersebut diorganisir oleh Kementrian Kebudayaan dan Olahraga Republik Kazakhstan.

Konferensi ini dihadiri oleh 82 delegasi dari 46 negara yang mewakili semua agama dunia dan tradisional serta para pemimpin dunia dan wakil dari organisasi internasional, termasuk di antaranya Aliansi Peradaban PBB (UNAOC), OSCE, UNESCO, dan Liga Negara-Negara Arab.

Ini adalah Kongres keenam sejak tahun 2003, ketika Presiden Kazakhtan Nursultan Nazarbayev memprakarsai pertemuan pertama semacam ini di Republik Asia Tengah – masyarakat multikultural yang terdiri dari 18 juta orang, mewakili lebih dari 100 kelompok etnis, 18 denominasi agama, dan 3.715 asosiasi keagamaan.

Kongres ini membantu memprakarsai dialog global antara agama dan peradaban dan memainkan peran utama dalam mempromosikan saling pengertian dan rasa hormat dalam masyarakat dan negara. Kontribusinya yang berharga dalam mempromosikan dialog dan pemahaman diakui di tahun 2004 oleh Resolusi PBB A/RES/59/23.

Bertindak berdasarkan rekomendasi oleh Kongres ini, sesi ke-62 Majelis Umum PBB mendeklarasikan tahun 2010 sebagai Tahun Internasional untuk Pemulihan Budaya.

Dalam waktu tiga tahun sejak Kongres terakhir, Astana telah menjadi tuan rumah dari acara global penting yang keputusannya, sebagaimana yang dikatakan oleh Presiden Nazarbayev di kata sambutan pembukaan pada Kongres tanggal 10 Oktober tersebut, "memiliki resonansi internasional, karena acara-acara tersebut diisi gagasan pemeliharaan perdamaian, kemitraan, toleransi, penciptaan."

Ini sangat penting karena dunia telah memasuki keadaan yang bergejolak. "Kita semua, termasuk politisi, dan pemimpin agama, tidak bisa tidak peduli dengan penggunaan sanksi, antaragama anda antarkonflik agama, perang dagang, polusi lingkungan," kata Presiden Kazakhtan.

Deklarasi Kongres tanggal 11 Oktober tersebut menekankan "pentingnya kerja sama antara pemimpin dunia dan agama tradisi dengan negara dan institusi publik yang berusaha mempromosikan koeksistensi damai antara masyarkat dan negara melalui dialog dan propaganda nilai-nilai kemanusiaan yang positif ".

Deklarasi ini mencatat "peran khusus pemerintah, serta organisasi pemerintah dan nonpemerintah, nasional dan internasional, dan media massa dalam mempromosikan cita-cita perdamaian dan saling pengertian antara Negara dan masyarakat ".

Deklarasi ini mengutuk dengan cara sekuat mungkin kelanjutan dari pelanggaran hak manusia yang berat, sistematis dan masif dan pelanggaran hukum kemanusiaan internasional" oleh organisasi teroris internasional, serta dukungan dan/atau sponsor terorisme yang merusak kepercayaan bersama dan kerja sama antara pengikut agama yang berbeda dan pengikut agama yang sama ".

Deklarasi ini menolak segala bentuk manipulasi agama dalam konflik politik, ekspresi keegoisan dan intoleransi, nasionalisme yang agresif dan klaim eksklusivitas. Deklarasi ini memandang masalah pejuang teroris asing yang pulang ke negaranya atau berpndah ke tempat lain "tantangan global baru untuk semua negara dalam memerangi terorisme internasional dan ekstremisme agama ".

Mengomentari Deklarasi ini, Dmitry Safonov, sekretaris eksekutif Dewan Antaragama Rusia: "Agama akan memainkan peran pembangunan perdamaian."

"Kita seharusnya tidak merancukan Islam dengan terorisme. Ini kesalahan dari banyak media. Islam adalah agama perdamaian dan toleransi. Islam tidak mempromosikan ekstremisme. Keamanan dan keselamatan adalah hak manusia. Itulah yang diyakini Islam," kata Mufti dari Tajikistan Saidmukarram Abduqodirzoda.

Mengingat kongres-kongres sejak tahun 2003 – di tahun 2006, 2009, 2012 dan 2015 – Wakil Menteri Luar Negeri Kazakhtan Yerzhan Ashikbayev mengatakan: "Ini adalah proses bertahap. Kongres pertama menyetujui banyak masalah. Sekarang mereka memiliki lebih banyak pemahaman. Ini adalah kesuksesan besar bahwa mereka berbicara tentang perdamaian dan kerja sama. Sebelumnya sulit membayangkan bagaimana mereka semua bisa duduk bersama. Sekarang mudah."

Ashikbayev dan pejabat Kazakhtan lainnya juga menekankan pentingnya mengambil tindakan nyata. Salah satu langkah pertama ke depan bisa menjadi pembukaan Pusat untuk Pengembangan Dialog Antarkonfesius dan Antarperadaban yang berfungsi sebagai pusat rekonsiliasi dan membangun perdamaian. Pusat tersebut diusulkan oleh Presiden Nazarbayev dalam pidato pembukaan Kongres tersebut.

Tindakan utama lain yang disebutkan oleh Wakil Menteri Luar Negeri Ashikbayev adalah perlunya mendidik kaum muda, yang juga termasuk dalam Deklarasi tersebut. Deklarasi tersebut menetapkan bahwa pendidikan harus tentang agama, toleransi dan penghormatan untuk nilai-nilai keluarga.

Deklarasi ini menyerukan pemerintah "untuk merevitalisasi pekerjaan dengan kaum muda untuk mencegah radikalisasi ".

Deklarasi tersebut juga menekankan perlunya mempromosikan dalam segala cara keterlibatan para pemimpin dunia dan agama tradisional dalam melakukan upaya yang lebih besar untuk mencapai stabilitas jangka panjang dan mencegah insiden kekerasan yang disebabkan oleh kebencian dan intoleransi.

Deklarasi ini lebih lanjut menyerukan penguatan kerja sama dari pemimpin agama dengan institusi internasional, pemerintah dan institusi publik menjadi pesan utama untuk implementasi yang sukses terhadap rekomendasi dan program yang vital yang ditujukan untuk keamanan yang komprehensif di dunia.

Lebih lanjut, Deklarasi tersebut menekankan perlunya memberikan setiap bantuan yang mungkin bagi semua masyarakat dan orang, tanpa memandang ras, agama, kepercayaan dan jenis kelamin, dalam memastikan hak yang tidak dapat dicabut untuk kehidupan yang damai, dan untuk menghormati hak yang sama dan kebebasan warga negara tanpa memandang ras, bahasa, agama, etnis nasional atau latar belakang sosial, properti, kelahiran atau status lainnya, dan bertindak terhadap satu sama lain dalam semangat persaudaraan.

Kongres Pemimpin Dunia dan Agama Tradisional VII akan diselenggarakan di tahun 2021 – lagi di Astana. [IDN-InDepthNews – 14 Oktober 2018]

Newsletter

Striving

Striving for People Planet and Peace 2018

Mapting

MAPTING

Fostering Global Citizenship

Partners

 


Please publish modules in offcanvas position.